WHAT'S NEW?
  • Don’t miss the newest edition – The Chinese manual READ MORE
  • New: Case studies on investigative reporting from the Balkans READ MORE
  • Great news for journalists from Nepal: Our Nepali edition is online! READ MORE

Kita menyebut para juru bicara resmi dan pelobi sebagai ‘spin doctor’: Mereka dibayar untuk membela majikan mereka dan untukmemberikan interpretasi yang sangat positif --- memelintir (spin) informasi --- mengenai suatu kejadian. Tidak selalu mudah untuk mengenalispin doctor. Sudah jelas, salah satunya staf menteri untuk berhubungan dengan pers. Lalu bagaimana dengan wartawanyang dibayar untuk mempromosikan suatu perkara atau partai tertentu? Bagaimana dengan kumpulanartikel yang diumpankan ke pers oleh sumber resmi atau perusahaan komersial yang bekerja di bawah tanah? Atau oleh ‘pakar’ yang ternyata dibayar oleh perusahaan untuk mempromosikan produk tertentu? Dan materi yang secara anonim disodorkan ke situs-situs abal-abal? Para spin doctor yang tidak biasa ini semakin sering dipakai untuk mempromosikan perkara, besar maupunkecil. Misalnya, pemerintah Amerika Serikat menggunakan perusahaan komersial untuk ‘mengelola’ citra publik dalam Perang Teluk, dan pemimpin perusahaannya dengan bangga menggambarkan diri sebagai ‘pejuang informasi’.

Meski demikian, lebih mudah menangani spin doctor yang diakui ketimbang menghadapi berita palsu. Anda tahu juru bicaramenteri dibayar untuk menutupi masalah dan membesar-besarkan kesuksesan. Hanya juru bicara yang sama sekali tidak terampil yang berbohong, karena cuma perlu sedikit riset untuk membongkar sebuah kebohongan. Riset awal yang menyeluruh ditambah dengan teknik wawancara yang baik dapat menyingkirkan penyangkalan para juru bicara dan arahan yang menyesatkan. Ingat, juru bicaa hanya melakukan pekerjaan mereka, sama halnya dengan Anda.

Selain juru bicara resmi, pemerintah --- dan beberapa perusahaan besar --- mempunyai agen intelijen untuk secara diam-diam menyerang sasaran bos mereka, dan kadang sasaran mereka sendiri. Pemerintah Amerika Serikat menggunakan badan intelijen untuk menanamkan cerita di media tentang ‘senjata pemusnah massal’ Saddam Hussein yangkemudian diketahui, ternyata tidak ada.

Menanamkan cerita adalah rutinitas keseharian agen rahasia, menggunakan seluruh departemen, yang bertujuan untuk mempengaruhi media. Mereka sering memata-matai wartawan untuk mencari tahu apa yang diketahui penyelidik, bahkan berusaha merekrut para wartawan (dalam beberapa kasus, berhasil). Acap kali mereka menyodorkan informasi (yang terdengar spektakuler) kepada wartawan dengan tujuan memelintir para juru berita itu, dan melalui wartawan memelintir publik. Sangat, sangatlah waspada, ketika seseorang begitu mudah ‘membantu’menyediakan rekaman dan dokumen penting, sekalipun motivasi mereka terdengar masuk akal.

Evelyn Groenink, yang mendirikan forum untuk jaringan reporter investigasi di Afrika (Forum for African Investigative Reporters Network), menyelidiki pembunuhan Dulcie September, seorang anggota Kongres Nasional Afrika di Paris, pada tahun 1988. Dalam kasus ini, agen rahasia Prancis menanamkan banyak berita palsu di surat kabar dengan ‘menunjuk’ orang asing sebagai pembunuhnya, demi mengaburkan peran mereka sendiri. Groenink pernah dijanjikan ‘rekaman percakapan selama 300 jam’ dengan agen senjata Prancis terkenal, oleh ‘seorang pengusaha yang tertipu’. Narasumber itu tampaknya memiliki motif yang masuk akal untuk mengadu ke pers: balas dendam setelah ditipu oleh agen senjata itu. Tapi saat Groenink mulai mengajukan pertanyaan tentang jumlah uang yang besar, waktu, kesempatan mengintai, tiket pesawat dan jaringan kontak yang tampaknya dimiliki oleh si ‘korban penipuan’ itu, narasumbernya menghilang --- lari ke London dan menetap di sana. Sekarang Groenink curiga dia bekerja untuk pemerintah Inggris atau industri senjata negara itu.

Sebagai patokan, selalu lebih baik menemukan sendiri narasumbermudaripada membiarkan mereka yang menemukanmu. Seorang informan rahasiayang mengklaim harus menemuimu di gang gelap dan memintamu untuk tidak menceritakan pertemuan tersebut kepada siapapun karena ‘mereka mengejarnya’, sangat mungkin merupakan bagian dari ‘mereka’! Khusus untuk berita ‘panas’, Anda akan sering menemukan narasumber yang enggan berbicara denganmu, yang bersikeras bahwa apa yang mereka katakan harus off the record, atau tidak ingin namanya disebutkan. Bagaimanapun, Anda perlu tahu siapa orang tersebut. Kalau tidak memiliki rincian latar belakang narasumbermu, Anda tidak akan tahu jenis informasi apa yang mampu mereka berikan. Narasumber yang paling berisiko adalah suara tak dikenal di ujung sambungan telepon --- walaupunbenar, seorang informan rahasialah atau deep throatyang membuka kasus Watergate.