Bacaan merupakan sumber berita terpenting. Membaca sebanyak-banyaknya juga membantu meningkatkan kapasitas profesional Anda, sekaligus memperbaiki kemampuan menulis. Jika Anda serius ingin mendalami bidang liputan Anda, membaca semua terbitan tentang bidang itu adalah tugas pekerjaan sekaligus dasar untuk menjadi seorang wartawan investigasi yang profesional. Tanpa membaca, para jurnalis tidak akan mendapatkan pemahaman yang baik tentang bagaimana seharusnya sebuah sistem atau proses bekerja dan apa yang terjadi kalau ada yang salah.

Jangan habiskan waktu hanya untuk memproses informasi yang sudah tersedia. Lebih baik terus mencari informasi baru untuk memperluas dasar pengetahuan Anda sendiri! Brant Houston, mantan direktur eksekutif Investigative Reporters and Editors (IRE), mengingatkan para pengguna buku Investigative Reporter’s Handbook yang dikeluarkan IRE bahwa sebenarnya ada banyak bibit untuk berita investigasi di koran-koran lokal. Di balik setiap iklan pengumuman legal tersembunyi berita, apakah itu tentang surat wasiat, perubahan nama, penyitaan, lelang, tender, propertiyang disita atau yang tidak diklaim. Koran lokal juga selalu memuat berita menarik tentang proyek konstruksi atau proyek pemerintah lainnya, dan berbagai kasus hukum di pengadilan setempat. Anda mungkin menemukan nama supir bus sekolah Anda yang dihukum karena mengemudi dalam keadaan mabuk, atau nama petugas keuangan dalam sebuah kasus pengutilan.

Kebanyakan jurnalis tidak menindaklanjuti berita-berita yang sudah dimuat. Padahal dalam banyak jajak pendapat dan diskusi grup terfokus pembaca selalu menyatakanmereka menyenangi berita lanjutan. Mereka ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya, mengapa itu terjadi atau cerita apa yang ada di balik berita harian yang pendek. Secara khusus kembangkanlah berita-berita yang mengabaikan pertanyaan ‘mengapa’ atau yang hanya fokus pada satu aspek berita. Cari juga cara lain untuk meliput peristiwa-peristiwa regular yang tampak biasasepertiperingatan hari raya nasional atau internasional.

Laporan pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat kerap tampak membosankan dan mengecilkan hati. Banyak jurnalis membacanya karena terpaksa, bukan untuk mencari bahan berita. Tapi jika membaca dengan lebih cermat seringkali Anda bisa temukan informasi baru dan menantang yang bisa menjadi bahan awal bagi sebuah liputan investigasi.Sumber daya yang terbatas atau letak geografis yang kurang menguntungkan mungkin menghambat akses Anda ke penerbitan dan website internasional. Reporter investigasi seharusnya bisa menggunakan saluran apa pun untuk selalumendapatkan informasi terbaru. Kedutaan asing atau organisasi non-pemerintahan kerap memiliki layanan ruang baca atau perpustakaan gratis, malah ada yang dilengkapi dengan akses internet. Bila tidak ada alternatif lain, jurnalis seharusnya membiasakan diri untuk mengunjungi tempat-tempat itu setiap ada kesempatan.

Jika Anda mengakses internet secara reguler, carilah situs berita atau jejaring sosial, seperti Facebook atau Twitter, di mana Anda menemukan banyak pendapat yang saling bertentangan. Cuitan di Twitter membagikan informasi awal dan berita-berita terbaru tentang berbagai hal.Ini terutama penting untuk bidang kesehatan atau sains yang perubahannya amat cepat. Beberapa jurnalis di negara miskin masih menulis berita tentang kurangnya pengobatan yang efektif untuk AIDS bertahun-tahun setelah obat-obatan antiretroviral diuji dan berhasil digunakan di Eropa dan Amerika Serikat. Mereka tidak punya akses terhadap informasi ini. Bisa juga karena tidak punya akses ke internet. Butuh waktu lebih lama bagi para jurnalis ini untuk membuka kesadaran publik akan isu kesehatan yang amat pentingini, yakni: hak untuik mendapatkan obat-obatan tersebut dan berbagai cara penyediaan obat-obatan tersebut dihalangi.