Tidak ada sarana yang lebih baik dalam menyebarkan rumor perkotaan daripada ‘radio pinggir jalan’, yakni gosip dan anekdot yang merambat cepat di antara para pedagang jalanan, supir taksi dan penumpang, pemain di lapangan golf, orang-orang yang dekat dengan politisi dan polisi, pialang tanah serta pelanggan di bar dan kafe. Gosip dan rumor dapat memperingatkan kita terhadap tren dan perubahan yang sedang terjadi. Media kerap dituduh‘merancang agenda’ atau mendikte minat pembaca, tapi rumor memiliki agendanya sendiri. Mata dan telinga jurnalis harus senantiasa terbuka untuk melihat petunjuk berita dan mendengar isu yang sedang dibicarakan orang. Apakah itu tentang anak perempuan yang hilangakibat perdagangan orang? Apakah orang mulai menyalahgunakan bir produksi rumahan jenis baru? Benarkah pengusaha terkenal itu tiba-tiba berhenti menghabiskan uang, atau seorang polisi mulai bergaul dengan pimpinan penjahat? Anda dapat mengetahui semua perkembangan tersebut dari gosip yang beredar. Banyak di antaranya benar. Seharusnya jurnalis bertanya pada diri sendiri mengapa orang meyakini itu. Apa yang dikatakan rumor itu mengenai situasi kita saat ini dan tentang negara kita?Apa yang digosipkan orang-orang di Facebook?

Langkah pertama adalah memastikan validitas rumor tersebut. Konfirmasikan informasi-informasi itu kepada narasumberyang kompeten dan tahu soal itu. Kemudian, cek ke kantor polisi lokal laporan mengenai anak perempuan yang hilang dan pada dokter jika menyangkut penyalahgunaan alkohol. Tanyakan kepada para pegawainya kondisi perusahaan milik pengusaha tersebut dan minta analis keuangan menjelaskan tentang tren pasar. Amati apakah orang-orang itu menjual aset-asetnya baru-baru ini. Amati polisi-polisi yang berperan. Hanya kalau rumor memiliki dasar, perencanaan berita bisa dimulai.